Slider Background

Soekarno: Sebuah Bibliografi (Bagian 1)

Kamis, Juni 01, 2017

Soekarno: Sebuah Bibliografi (Bagian 1)

Soekarno: Sebuah Bibliografi (Bagian 1)

Selain menjadi presiden pertama Indonesia, Soekarno juga seorang penulis yang haus akan buku di masa mudanya. Dalam buku Bibliografi Sukarno yang diterbitkan oleh Yayasan Idayu pada 1988, tercatat tidak kurang dari 1.196 tulisan karya Soekarno dalam bentuk pidato, amanat dan karya tulis lainnya.

Melalui buku, nama Soekarno selalu dikenang sebagai satu-satunya Presiden Republik Indonesia yang banyak menelurkan karya tulis (pemikiran). Mungkin sudah lebih dari 100 buku tentang Soekarno yang telah ditulis, baik yang berbahasa Indonesia maupun asing. Melalui berbagai buku yang ditulis oleh Soekarno sendiri, kita bisa melihat gambaran sosok Soekarno sebagai seorang aktivis, penulis, proklamator dan presiden pertama Republik Indonesia.

Membangun Dunia yang Baru (To Build the World Anew)

Yogyakarta: Media Pressindo, 2000
Naskah asli buku ini adalah teks pidato yang dibacakan Soekarno di depan Majelis Umum PBB pada 30 September 1960. Soekarno mengumumkan bahwa Indonesia keluar dari PBB karena lembaga tersebut memasukkan Malaysia sebagai anggota Dewan Keamanan PBB. Dalam pidatonya, Soekarno mengkritik perimbangan kekuasaan dunia yang menurutnya masih menunjukkan kentalnya imperialisme dan kolonialisme. Secara khusus, Soekarno menyinggung Irian Barat, pulau tertimur Indonesia yang ia rebut dari kekuasaan Barat. Ia pun berharap agar PBB tampil menjadi pendukung negara-negara yang baru saja meraih kemerdekaannya.

Sarinah: Kewajiban Wanita dalam Perdjoangan Republik Indonesia

Jakarta: Panitya Penerbit Buku-Buku Karangan Presiden Soekarno, 1963
Buku ini pertama kali terbit pada 1947. Isinya adalah kumpulan tulisan Soekarno dalam kursus wanita yang ia selenggarakan di Yogyakarta. Bagi Soekarno, memberikan kursus wanita itu penting karena “soal wanita adalah soal masyarakat” dan soal wanita belum pernah dipelajari sungguh-sungguh oleh pergerakan Indonesia saat itu. Kumpulan tulisan ini diberi nama Sarinah, nama pengasuhnya di masa kanak-kanak. “Dia sendiri orang kecil, tetapi budinya selalu besar,” begitu ditulis Soekarno tentang pengasuhnya itu suatu ketika.

Kepada Bangsaku

Jakarta: Panitia Pembina Djiwa Revolusi, 1963
Buku ini berisi pilihan tulisan Soekarno dari tahun 1920-an hingga 1950-an. Sejumlah tulisan terkenal Soekarno bisa dibaca di buku ini. Antara lain, Nasionalisme, Islamisme & Marxisme (1926), Indonesia Menggugat (1930), Mencapai Indonesia Merdeka (1933), Kepada Bangsaku (1947) dan Konsepsi Presiden (1957). Berbagai pihak mencoba menjadi penafsir tulisan-tulisan Soekarno, terutama ketika muncul kelompok Badan Pendukung Soekarnoisme (BPS) yang sering dituduh “mengajarkan Soekarnoisme dengan mematikan Soekarno”.

Di Bawah Bendera Revolusi (Jilid 1)

Jakarta: Panitia Penerbit di Bawah Bendera Revolusi, 1963
Enam puluh satu tulisan dalam buku ini ditulis Bung Karno sebelum proklamasi kemerdekaan. Buku ini mencerminkan betapa luas perhatian Soekarno, mulai dari masalah politik, agama, soal-soal di Tanah Air sampai masalah di negara-negara lain. Juga tercermin sudah betapa gandrungnya ia pada yang dinamai persatuan. Beberapa tulisan dalam buku ini pernah dimuat di media massa (antara lain Soeloeh Indonesia Moeda dan Fikiran Ra’jat), beberapa belum pernah dipublikasikan. Tulisan disusun secara kronologis, memudahkan pembaca mengikuti perkembangan pemikiran Soekarno. Tulisan penutup, Mendjadi Goeroe Dimasa Kebangoenan, dimuat dengan naskah aslinya: tulisan tangan. Buku ini juga dilengkapi beberapa foto dan karikatur dari koran Fikiran Ra’jat.

Indonesia Menggugat

Jakarta: CV. Haji Masagung, 1983
Peradilan atas diri Soekarno di Bandung pada 1930, dimanfaatkan oleh Ketua Perserikatan Nasional Indonesia sebagai ajang politik untuk mengecam kebijakan pemerintah kolonial, sembari mengobarkan semangat menentukan nasib bangsa sendiri. Pangkal soalnya adalah penggunaan kata “kapitalisme harus dilenyapkan” dan “rubuhkanlah imperialisme” yang oleh pemerintah Belanda ditafsirkan sebagai ancaman terhadap pemerintah di Hindia Belanda.

Pancasila Sebagai Dasar Negara

Jakarta: Inti Idayu Press & Yayasan Pendidikan Soekarno, 1984
Buku kumpulan tulisan yang dibawakan Soekarno dalam kursus tentang Pancasila pada 1958, dilampiri pidato Soekarno pada 1 Juni 1945 di depan Sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK), yang kemudian diberi judul Lahirnya Pancasila. Dalam pidato itu, Soekarno mengutip sejarawan Perancis, Ernest Renan dan Otto Bauer, bahwa syarat terbentuknya bangsa adalah kehendak untuk bersatu dan karena adanya persatuan nasib.

Bung Karno dan Wacana Islam

Jakarta: Panitia 100 Tahun Bung Karno dan Grasindo, 2001
Menurut pengantar, buku ini merupakan bagian dari usaha mendokumentasikan kembali tulisan-tulisan Soekarno yang tersebar di berbagai tempat. Usaha ini menjadi penting untuk menunjukkan bahwa dimensi intelektualitas para pemimpin bangsa Indonesia sangat menonjol. Khusus tentang wacana masalah Islam, editor buku ini menulis, “Pemahaman Islam yang dimiliki Soekarno tidak tumbuh dan tidak berkembang dari wacana akademik, melainkan merupakan bagian dari proses dinamika tumbuh-kembangnya sebagai pemimpin bangsa…Dengan kata lain, semua itu merupakan hasil dari suatu proses intelektual yang dialogis, cerdas dan berbudaya.”

Kepustakaan
Majalah Tempo Edisi 4-10 Juni 2001 (Edisi Khusus “Bung Karno Berbisik Kembali”).
PREV
NEXT

Tidak ada komentar

Posting Komentar