Slider Background

Umar dan Sang Pertapa

Senin, April 24, 2017

Umar dan Sang Pertapa

Umar dan Sang Pertapa

Umar bin Khattab sangat berhati-hati memilih gubernur dan hakim; ia mengawasi mereka dan memerhatikan bagaimana mereka menangani berbagai persoalan. Jika ada gubernur yang melakukan kesalahan atau korupsi, ia akan mendapat hukuman yang sangat berat.

Suatu ketika, Umar ingin menunjuk gubernur untuk kota Homs; ia berpikir keras sambil berdoa kepada Allah supaya membimbingnya dalam menentukan pilihan. Akhirnya Umar memilih Umair bin Sa’id, seorang pejuang yang turut andil dalam penaklukan Syria.

Satu tahun berlalu, tapi Umair tidak mengirimkan uang sepeser pun kepada Umar, bahkan sepucuk surat pun tak pernah ada. Umar menulis surat kepada Umair dan memerintahkannya untuk suatu waktu kembali ke Madinah. Umair segera datang ke Madinah. Ia kembali dengan berjalan kaki dan memegang sebatang tongkat. Ia juga hanya membawa sebotol air dan menyandang sebuah tas di punggungnya. Ketika melihatnya, Umar sangat terkejut.

“Wahai Umair, apakah kau telah dirampok atau rumah dinasmu sangat miskin?”

“Wahai Pemimpin Kaum Mukmin, bukankah Allah telah melarang manusia untuk berbicara dan berprasangka buruk? Sekarang aku menghadapmu dan meninggalkan seluruh dunia di belakangku.”

“Dan hal apa yang kau miliki dari dunia itu?” tanya Umar.

“Sebatang tongkat untuk bersandar, dengannya aku melawan musuhku, sebotol air untuk minum dan membersihkan badanku, sebuah mangkuk besar untuk berwudu sebelum salat dan untuk makan. Demi Allah, dunia ini hanyalah pengikut bagiku.”

Umar merasa sangat sedih dan berpikir bahwa ia telah memilih orang yang salah; Umar mulai menyalahkan dirinya sendiri. Umar kemudian pergi ke makam Nabi dan Abu Bakar; di sana ia menangis lama.

“Ya Allah, semoga kelak aku bergabung bersama dua sahabatku tanpa dihina dan dipermalukan,” doa Umar.

Kemudian Umar kembali menuju rumahnya.

“Apa yang telah kau lakukan, Umair?” tanya Umar.

“Aku mengambil unta-unta dari para pemiliknya dan pajak-pajak dari yang kaya, membagikannya pada si miskin, kaum papa dan musafir. Wahai Pemimpin Kaum Mukmin, apakah aku meninggalkan sesuatu yang seharusnya kuberikan padamu?”

Karena mendengar jawaban Umair, Umar segera pergi.

“Kembalilah bekerja Umair.”

“Oh, demi Allah, Aku memintamu untuk mengembalikanku kepada keluargaku,” pinta Umair.

Umar kasihan pada Umair dan mengembalikannya kepada istrinya. Sementara itu, Umar ingin memastikan kebenaran perkataan Umair. Umar pun menyuruh Habib untuk memastikannya dengan membawa hadiah seratus dinar.

“Pergilah dan ujilah Umair, tinggallah di rumahnya sebagai tamu selama tiga hari untuk melihat apakah ia miskin atau kaya. Jika ia miskin, berikan seratus dinar ini dan kembalilah padaku.”

Tak lama sesudahnya, Habib mengunjungi Umair. Ia tinggal selama tiga malam di sana dan tak makan apa pun kecuali gandum dan minyak. Pada hari ketiga Umair mendekatinya.

“Oh, Habib, kau boleh pindah ke rumah tetangga yang lebih kaya dari kami. Demi Allah, jika kami memiliki sesuatu yang lain, kami akan menawarkannya untukmu dengan senang hati.”

Mendengar hal ini, maka Habib memberinya seratus dinar.

“Pemimpin Kaum Mukmin memberikan uang ini untukmu,” kata Habib.

Umair membeli beberapa kain dan membaginya menjadi 20 potong, menyelipkan 5 dinar dalam setiap potongnya dan memberikannya pada teman-temannya yang miskin tanpa tersisa. Melihat kejadian itu, ia segera pergi dari rumah Umair untuk kembali menghadap Umar.

“Aku datang menghadapmu dari seorang pertapa yang hidup di masa kita. Ia tidak memiliki apa pun dalam hidupnya,” ucap Habib kepada Umar.

Karena tercengang akan keadaan Umair, Umar meminta Umair agar menemuinya. Ketika Umair bertemu Umar, mereka berbincang sejenak. Dan ketika Umair ingin pamit, Umar memberinya dua ekor unta penuh dengan makanan dan dua pasang baju.

“Pemimpin Kaum Mukmin, aku terima pakaian ini. Tapi aku tidak bisa menerima makanannya karena istriku memiliki persediaan gandum lebih dari cukup untuk keluargaku sampai aku kembali.”

Umar sangat tersentuh dengan kesalehan Umair sampai tidak mampu menahan air matanya.

“Oh Umair……..aku berharap ada banyak orang sepertimu menjaga kesejahteraan kaum Muslim!” ucap Umar.

Sambil memegang tongkat di tangan kanan dan membawa tas di punggung, Umair meninggalkan Umar dan menuju masjid terdekat.

Kepustakaan
Khudairi, Arif. 1998. Tales From the Arabian Sahara: The Trip and Other Stories. London: Minerva Press.
PREV
NEXT

Tidak ada komentar

Posting Komentar